tugas matakul kesehatan mental = bedah film


Film ini bercerita tentang kehidupan anak lelaki yang mental retarded, serta mempunyai disability, yaitu tidak bisa berjalan dan harus memakai penopang dari besi untuk menopang kakinya agar bisa berjalan. Di film ini diceritakan bagaimana Forrest bertahan hidup dan mengejar masa depannya, dengan dukungan orang-orang sekitar yang baik padanya, walaupun tak jarang ia mendapat makian dan penolakan dari sana-sini. Ibunya mengajarinya banyak hal, hingga ia bisa menjadi seseorang. Ia juga bertemu dengan Jenny, wanita yang ia cintai namun kisah cintanya tidak berjalan mulus. Tak lama setelah mereka dipersatukan lagi dan menikah, tetapi Jenny akhirnya meninggal karena terkena penyakit, dan Forrest tinggal bersama anaknya, yang juga bernama Forrest.
Adegan dalam film ini banyak yang menarik. Awal filmnya saja sudah menarik, yaitu saat Forrest mengatakan pada orang yang sedang menunggu bis bersamanya, bahwa hidup itu seperti sekotak coklat, kita tidak akan pernah mengetahui apa yang kita dapatkan. Saya setuju dengan kutipan tersebut, karena menurut saya, hidup ini sungguh unpredictable. Kita tidak bisa tahu apa yang ‘disajikan’ berikutnya, seperti sekotak coklat yang diumpamakan oleh film ini. Saya meyakini bahwa hidup saya (dan semua manusia) seperti itu.
Selain itu, adegan saat ibunya Forrest mengatakan pada Forrest, “You are as the same as everybody else, You are no different. (kamu sama seperti yang lain, tidak ada bedanya).”, juga menjadi adegan yang membuat saya tersentuh. Saya merasa sedih, namun senang dan ‘terhibur’ juga, karena merasa disadarkan bahwa memang semua orang sama, apapun ‘penderitaan’ yang mereka punya dan hadapi, mereka mendapatkan peluang yang sama untuk meraih apa yang mereka cita-citakan. Begitu juga dengan hidup saya. Apapun persoalan, cobaan dan kondisi saya saat ini, saya tetap harus maju dan mengejar cita-cita saya, karena saya mempuyai kesempatan yang sama dengan ‘mereka’, dan itulah yang menjadi pegangan hidup saya.
Adegan di mana Forrest sedang bersama Jenny, seorang anak yang pertama kali menawarkan kursi di bis sekolah yang sama-sama mereka tumpangi, juga menarik perhatian saya. Saat itu, hanya Jenny yang bisa menerima Forrest. Setelah itu mereka semakin dekat, saling mengisi dan bertukar ‘ilmu’. Contohnya ketika Forrest mengajari Jenny bergelantungan di pohon, sementara Jenny mengajari Forrest memanjat. Mereka saling mendukung satu sama lain. Sampai pada suatu hari, saat Forrest sedang diganggu oleh anak-anak nakal, Jenny menyuruhnya untuk berlari. “Run Forrest, Run! (larilah Forrest, lari!) ”, teriak Jenny. Forrest pun berlari, dan terus berlari, hingga ia bisa berlari sangat cepat. Pada akhirnya juga Forrest menjadi pemain football dan membawa nama universitasnya. Adegan ini membuat saya menangis terharu, karena disini terlihat bagaimana Forrest mendapatkan support dari seorang teman, dan senang karena akhirnya ia bisa melakukan sesuatu yang tadinya terpikir sangat tidak mungkin bisa dilakukan oleh seorang anak dengan disability seperti Forrest. Bagi saya, kondisi seperti ini sering saya temui di kehidupan saya. Pada saat saya merasa sesuatu itu sangat mustahil saya lakukan, saya tidak berusaha lebih keras (karena sudah berpikir bahwa saya tidak akan bisa) lagi untuk bisa melakukannya, namun saat saya mendapat support dari lingkungan sekitar saya, saya merasa termotivasi untuk berusaha terus, dan pada akhirnya saya memang bisa melakukannya, saya hanya harus berusaha lebih keras lagi.
Adegan selanjutnya yang menyentuh emosi saya adalah saat Forrest sedang berperang membela Amerika di Vietnam. Saat itu, serangan datang tiba-tiba, Forrest teringat kata-kata Jenny untuk berlari, dan ia pun berlari. Kemudian ia tersadar bahwa saat itu ia berlari sendirian, ia teringat Bubba, temannya sesama prajurit angkatan darat, lalu ia kembali dan mencari Bubba. Ia dan Bubba sudah berteman baik, dan berjanji akan membuat bisnis udang bersama-sama. Saat ia mencari Bubba, ada banyak yang meminta pertolongannya, dan saat ia menemukan Bubba, ia melihat Bubba terluka. Ia menggendong sahabatnya itu dan menyelamatkannya. Namun sayang, ia harus kehilangan Bubba. Ia sangat sedih, karena menurutnya, persahabatan seperti itu sulit ia temukan. Adegan ini juga membuat saya menangis terharu, karena sama seperti Forrest, bagi saya persahabatan adalah hal yang sulit saya temukan. Saya memang punya banyak sekali teman, namun yang mempunyai ‘tempat’ di hati saya hanya segelintir saja. Oleh karena itu, mereka sangat berarti bagi saya. Juga sama seperti Forrest, saya akan melakukan apa saja semampu saya menjadi seorang sahabat yang baik, dan mengungkapkan rasa sayang saya pada sahabat-sahabat saya. Saya benar-benar berusaha untuk tidak mengecewakan mereka.
Adegan saat ia bertemu Jenny di akhir film, juga sangat menyentuh saya. Saya senang melihat akhirnya Forrest dan Jenny dipersatukan lagi. Ternyata Forrest sudah punya anak, yang juga diberi nama Forrest oleh Jenny. Anaknya sangat pintar, dan Forrest terlihat bersyukur karenanya. Adegan ini tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya sehari-hari, saya hanya menyukai bagian ini saja, karena di bagian ini saya dapat melihat cinta sejati yang tidak akan hilang oleh apapun. Dengan keajaiban Tuhan, mereka dipersatukan lagi, dan pasti ini menjadi salah satu bagian terbaik dalam hidup seseorang.
Film ini adalah film favorit saya. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan lewat Forrest, yang selalu berpikir ke depan, tidak pernah putus asa, walaupun banyak keterbatasan yang ia punya. Dari film ini saya mendapat banyak ‘pencerahan’ bahwa tidak ada satu alasan pun yang menghambat seseorang untuk maju, dan itu pula yang menjadi pegangan hidup saya untuk meraih semua harapan saya..

Advertisements

1 Comment

Filed under me in campus, me in me, psycho-stuffs

One response to “tugas matakul kesehatan mental = bedah film

  1. Alin dong!

    Gw juga lebih suka film ini daripada yg jdulnya “radio” itu, ato apalah namanya, hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s